Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Si Perindu yang diam..

Gambar
P ada kedatanganmu yang berulang Aku tetap berteman diam Membungkam ribuan rindu yang tersimpan Tersembunyi dibalik aksara dan harapan Kukira pemain akting terbaik ada di layar kaca Ternyata salah.. Ada seorang perindu berdrama dalam kenyataan berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa mencoba mengubah rasa menjadi makna menuangkan semua dalam tulisan sederhana yang mungkin bahkan tak akan pernah sempat kau baca Sepertinya kubutuh lebih banyak detik untuk memanjangkan hari Agar setumpuk rindu itu sedikit terobati Meski hanya mampu sedikit mencuri tatap Aku tetap jadi si perindu yang diam Diam-diam menyusun harap dalam bait do’a malam -ir-

pinta si perindu

Gambar
L angit memuntahkan seribu angan lewat awan Sedang mendung begitu kejam Menutup biru menjadi hitam Angan dan rindu mulai bertamu Angin mengantar dengan riuhnya Dan berbisik memekik telinga “hai kau si perindu yang malang” katanya. Sepertinya aku harus keluar Melebur rindu ditengah hujan Sembari menyamarkan tangis yang serupa rintiknya Tuhan.. si perindu ini lelah Bisakah kau hapuskan sedikit rasa yang tumbuh ini Karna aku tak terlalu kuat untuk kecewa Nanti saat hujan reda biar kubereskan sisa rindu-rindu yang berserakan Yang mulai berdebu karna terabaikan. -ir-

kau..

Gambar
B eberapa hari ini penaku absen menulis tentangmu Terasa berat, hanya tersekat dalam otak Rasanya semua terhenti sebatas angan Bisakah kau duduk disebelahku sebentar saja Akan kuceritakan sesuatu Kau tau, aku punya panggilan baru untukmu “si fatamorgana” Karna sampai detik inipun kamu hanya hayal semu Sebatas indah dalam angan dan mimpi Sedang kau tak ada dalam nyataku Kau muasal imajinasiku, mendongeng cerita indah kala sunyi bertamu Menutup malam larutku penuh lamunan tentangmu Bagai fajar penghangat pagiku Layaknya merah jingga pemanis senjaku Tapi..  semua tetap terbungkus angan semu Sungguh, kau ilusi semata wahai fatamorgana -ir-

aku..

S ejenak waktu menuai hebat Memasuki mimpi lewat angan indah Langit mulai melukis warnanya Menghitam tanpa tepi Memendam harapan para asa yang menanti Kadang hati se-egois ini Merindu tanpa permisi Waktupun seakan tak berjeda Kala sang perindu ini terbawa suasana Berulang kali mencoba bercerita lewat sajak gila Aku, pengagum si senja lewat pena yang selalu menyebut namamu dalam do'a -ir-

Lelaki Senja dan si Perindu

Gambar
H ai kau.. si lelaki senja bagaimana kabar hatimu? sudahkah ada sedikit cela untuk si perindu ini? sepertinya mustahil. kau tau, kenapa kau kusebut “ lelaki senja ” coba sebentar saja kau nikmati senja indah bukan? Tapi hanya sesaat kemudian hilang tergantikan hitam sama sepertimu. harusnya kita bertukar hati sehari saja agar kau tau seperti apa jadi aku si pengagum dari jauh yang diam-diam menatap diam-diam berharap tenang, aku cukup tau diri untuk mengharap bersama hanya menaruh harap semoga kau tetap dipeluk bahagia meski bukan dengan si perindu ini -ir-

Rindu Posesif

Gambar
R indu akanmu malam ini terlalu memaksa Menjelma angin Dinginnya tak biasa Membuat gigil. Sudah kutarik selimut tetap saja memaksa masuk Sudah, pergilah! Aku sedang tak ingin menjamu rindu Harus apa aku menepismu?? Sulit! Angin rindu ini terlalu posesif -ir-

ya, aku sadar diri!

Gambar
S ombong sekali aku Berfikir kau beruntung selalu menjadi objek tulisanku Mungkin menurutmu ini hal bodoh dan lucu Tak apa.. Bisa apa aku yang hanya mampu bercerita dengan sebuah pena Terkadang juga dengan Tuhanku dalam sebuah do’a Itu saja. Ya, aku sadar diri! -ir-

Bisa Apa Aku?

Gambar
M asih dengan bau hujan sore tadi Ditemani kertas penuh coretan Sudah dua gelas coklat kuhabiskan Kufikir bisa menghangatkan sisa rindu Tetap saja dingin membeku Sama seperti sikapmu Yang aku tau setiap rindu menuntut pertemuan Tapi jika hanya memandang akankah terobati?? Entahlah... Bisa apa aku! -ir-

Hujan, Senja, dan Kamu

Gambar
S oreku sendu Dinginnya hujan mendekapku serupa kerinduan Seketika terlintas sosok baru dalam cerita baru Tak ingin rasanya kutepis Biar kunikmati bersama secangkir coklat panas Ditemani aroma hujan yang tenang Tiba-tiba terlintas lekung senyum itu Sorot mata itu Ah! Kau berhasil menyita fikiranku sore ini Meski senjaku tergantikan hujan Soreku tetap manis Karna kamu... lebih dari keindahan senja -ir-

Mengenal Tanpa Perkenalan

Gambar
B erawal dari senja sore itu saat retinaku menatap satu sorot mata dari sosok yang masih asing di kepalaku tiba-tiba dia hadir dalam mimpi malamku fikirku "ah, itu hanya bunga tidur" tapi semakin aku menepisnya justru sosok itu semakin menyita perhatianku tanpa sadar kupandangi setiap lalu lalangnya, dengan banyak pertanyaan tanpa jawaban. siapa dia? kenapa semakin sering bertamu dalam mimpiku? kenapa mencuri separuh perhatianku? disetiap pagiku mulai disuguhi sosoknya, sampai senjapun sepertinya jadi candu memandang setiap langkahnya, akupun jadi sering menikmati malam sembari menunggu sosoknya tertangkap retinaku. aku mulai jadi pemerhati, sorot matanya, senyumnya, dan terus berulang. sudah puluhan fajar dan senja bergantian, dan yang kurasa masih sama! entah rasa seperti apa, sulit kudefinisikan. yang jelas perhatian dan pandanganku semakin tersita. sampai pada suatu hari sorot mata dan senyuman itu tak terlihat disetiap pagi dan senjaku, aku seperti kehilangan...